Pemaknaan Lirik Lagu Tarot karya .Feast oleh Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.63863/jce.v2i4.220Keywords:
pemaknaan lirik, lagu tarot, .Feast, mahasiswa PBSIAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menafsirkan lirik lagu Tarot karya .Feast serta faktor-faktor yang memengaruhi proses konstruksi maknanya. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan desain Explanatory Sequential, diawali pengumpulan data kuantitatif melalui skala Likert kemudian dilanjutkan dengan data kualitatif berupa jawaban terbuka. Sebanyak 16 responden berpartisipasi melalui instrumen Google Form. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, sedangkan data kualitatif dianalisis dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden tidak menempatkan tema asmara sebagai makna utama dalam lirik Tarot. Sebaliknya, unsur takdir/ramalan, refleksi diri, serta pesan kebebasan memilih hidup menjadi makna yang paling dominan ditangkap. Responden juga menilai lirik bersifat puitis dan cenderung ambigu, sehingga memungkinkan banyak interpretasi. Keterhubungan emosional dengan lirik tidak muncul secara kuat, dan sebagian besar responden menafsirkan lagu melalui pendekatan tekstual daripada pengalaman pribadi. Temuan dari data kualitatif memperlihatkan bahwa interpretasi dapat dipengaruhi oleh refleksi diri, pengalaman emosional, maupun paparan media sosial. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa lirik Tarot merupakan teks polisemi yang memunculkan keragaman makna, dan pemaknaan pendengar dibentuk oleh kombinasi simbol lirik, konteks sosial, serta kecenderungan interpretatif individu.
Downloads
References
Baker, C. (1992). Attitudes and language. Multilingual Matters.
Barthes, R. (1972). Mythologies. Hill and Wang.
Barthes, R. (1977). Image–music–text (S. Heath, Trans.). Hill and Wang.
Garrett, P. (2010). Attitudes to language. Cambridge University Press. DOI: https://doi.org/10.1017/CBO9780511844713
Hall, S. (1980). Encoding/decoding. In Centre for Contemporary Cultural Studies (Ed.), Culture, media, language (pp. 128–138). Hutchinson.
Juslin, P. N., & Sloboda, J. A. (Eds.). (2010). Handbook of music and emotion: Theory, research, applications. Oxford University Press. DOI: https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199230143.001.0001
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Chaer, A., & Agustina, L. (2010). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik. Gramedia Pustaka Utama.
Amrullah, A., Khusyairi, J. A., & Riyanto, E. D. (2023). Audience Reception Analysis on the Phenomenon of ‘Nonsense’ Lyrical Meaning of Asmalibrasi by Soegi Bornean. Jurnal Seni Musik, https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jsm/article/view/69893 DOI: https://doi.org/10.15294/jsm.v12i1.69893
Aini, H. N., Abidin, Z., & Mudianto, C. D. P. (2024). Music Communication in Juicy Luicy’s Lyrics: Emotional Voices of Generation Z. JOSAR (Journal of Students Academic Research), https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/josar/article/view/4528


