Analisis Kesiapan Guru Matematika SMP Dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Authors

  • Sudrajat Universitas Peradaban Author

DOI:

https://doi.org/10.63863/jce.v3i1.245

Keywords:

Guru Matematika SMP, Implementasi, Kesiapan, Pembelajaran Mendalam

Abstract

Penerapan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam pendidikan menuntut kesiapan guru, khususnya dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang mendorong pemahaman konseptual, refleksi, dan keterkaitan pengetahuan dengan konteks nyata. Namun, belum semua guru memiliki kapasitas yang memadai untuk mengimplementasikan pendekatan ini secara efektif di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan guru matematika dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam (deep learning). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling, melibatkan sembilan guru matematika sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur sepuluh indikator kesiapan guru dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kesiapan guru matematika dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam berada pada kategori “sering”, dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 77,7%. Aspek kesiapan yang memperoleh nilai tertinggi adalah pada pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran, yaitu sebesar 89%, sedangkan partisipasi guru dalam pelatihan terkait pembelajaran mendalam menunjukkan angka terendah, yakni 56%. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas guru telah memiliki tingkat kesiapan yang relatif baik dalam sejumlah indikator, masih terdapat kebutuhan mendesak untuk memperkuat aspek pelatihan dan pengembangan profesional. Upaya tersebut diperlukan guna mendukung penerapan pembelajaran mendalam secara lebih konsisten dan efektif. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan dalam perumusan kebijakan dan pengembangan program pelatihan yang bersifat kontekstual, berkelanjutan, dan responsif terhadap kebutuhan guru di lapangan.

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] S. Sudrajat, “Pendekatan Teaching At The Right Level (TaRL) Dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar: Analisis Bibliometrik,” J. Dialekt. Progr. Stud. Pendidik. Mat., vol. 12, no. 2, hal. 1236–1251, 2025.

[2] M. Fullan dan M. Langworthy, A Rich Seam How New Pedagogies Find Deep Learning, vol. 223, no. 4. 2014.

[3] C. Rahayu, W. R. Setiani, D. Yulindra, dan L. Azzahra, “Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dalam Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Tinjauan Literatur,” J. Pendidik. Mat. Univ. Lampung, vol. 13, no. 1, hal. 9–25, 2025.

[4] J. Biggs dan C. Tang, Teaching for quality learning at university. (2nd Edn.), vol. 50, no. 4. 2011.

[5] S. R. Maulidya, S. U. Insani, dan Zulfah, “Deep Learning untuk Mendukung Pembelajaran Matematika Pemahaman Mendalam dalam,” J. Pengabdi. Masy. dan Ris. Pendidik., vol. 4, no. 1, hal. 1274–1278, 2025.

[6] A. Mahmudi, S. Sugiman, K. Hernawati, dan H. P. Lestari, “PYTHAGORAS: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika Pengembangan Bahan Ajar Matematika Berbasis Kontekstual,” PYTHAGORAS J. Pendidik. Mat., vol. 17, no. 2, hal. 368–376, 2022.

[7] S. Sudrajat, “Analisis Kualitas Instrumen Tes untuk Mengukur Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMP,” Elips J. Pendidik. Mat., vol. 5, no. 2, hal. 210–221, 2024.

[8] S. Sudrajat, “Analisis Kualitas Instrumen Tes Untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP Pada Materi Geometri,” J. Pembelajaran dan Mat. Sigma, vol. 10, no. 2, hal. 210–215, 2024.

[9] F. Marton dan R. Saljo, “On qualitative differences in learning: I. Outcome and process,” Br. J. Educ. Psychol., vol. 46, no. 1, hal. 4–11, 1978.

[10] M. Fullan, J. Quinn, dan J. McEachen, Deep Learning: Engage the World Change the World. Thousand Oaks, California: A SAGE Company, 2018.

[11] M. K. Anwar, “Pembelajaran Mendalam untuk Membentuk Karakter Siswa sebagai Pembelajar,” Tadris J. Kegur. dan Ilmu Tarb., vol. 2, no. 2, hal. 97–104, 2017.

[12] J. Mezirow, “Transformative Learning: Theory to Practice,” New Dir. Adult Contin. Educ., vol. 1997, no. 74, hal. 5–12, 2002.

[13] J. Piaget, “Piaget When Thinking Begins10272012_0000.pdf,” Yuzunci Yil Universitesi Egitim Fakultesi Dergisi, vol. 23, no. 89. hal. 25–36, 1952.

[14] Anderson dan Krathwohl, “A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives: complete edition,” hal. 1–7, 2001.

[15] J. D. Bransford, A. L. Brown, dan R. R. Cocking, How People Learn: Brain, Mind, Exprience, and School. 1994.

[16] T. R. Guskey, “Professional development and teacher change,” Teach. Teach. Theory Pract., vol. 8, no. 3, hal. 381–391, 2002.

[17] L. Darling-Hammond, M. E. Hyler, dan M. Gardner, “Effective Teacher Professional Development in the evolution of human and non-human animals,” Learn. Policy Inst., no. June, hal. 64, 2017.

[18] G. Siemens, S. Onderwijsdagen, D. Age, E. Design, S. Downes, dan P. Verhagen, “Connectivism : a new learning theory ?,” J. Instr. Technol. Distance Learn., vol. 2, no. 1, hal. 1–5, 2019.

[19] E. B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: What It Is and Why It’s Here To Stay. Thousand Oaks, California: Corwin Press, Inc, 2002.

Published

2026-02-03

How to Cite

Analisis Kesiapan Guru Matematika SMP Dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). (2026). Jurnal Cahaya Edukasi, 3(1), 320-326. https://doi.org/10.63863/jce.v3i1.245